Mengapa Ada Pulau yang Justru Dipenuhi Kucing dan Manusia Menjadi Minoritas?
Kalau biasanya pulau identik dengan manusia, rumah, dan warung pinggir pantai, ada satu tempat di Jepang yang justru punya “penguasa” berbulu empat kaki. Namanya Tashirojima, sebuah pulau kecil di Prefektur Miyagi yang terkenal sebagai Cat Island. Di sini, jumlah kucing jauh lebih banyak dibandingkan manusia. Data pemerintah Jepang menyebutkan bahwa pada 2021 terdapat lebih dari 100 kucing dan hanya sekitar 55 penduduk manusia.
Kenapa bisa sampai begini? Ini beberapa fakta uniknya:
- Awalnya kucing bukan buat lucu-lucuan. Dahulu Tashirojima terkenal sebagai daerah penghasil ulat sutra. Tikus menjadi masalah besar karena bisa merusak kepompong, sehingga kucing dipelihara untuk membantu mengendalikan populasi tikus. Secara sederhana, kucing zaman dulu adalah “satpam biologis” pulau.
- Nelayan ikut bikin populasi kucing betah. Setelah industri sutra menurun, kehidupan masyarakat tetap berkaitan erat dengan perikanan. Para nelayan sering memberi sisa ikan kepada kucing. Artinya, tersedia sumber makanan dan kucing tidak perlu pergi jauh untuk bertahan hidup.
- Kucing dianggap membawa keberuntungan. Masyarakat setempat sejak lama menghormati kucing dan mengaitkan perilaku mereka dengan cuaca serta hasil tangkapan ikan. Hubungan ini membuat kucing bukan sekadar hewan liar, tetapi bagian dari budaya masyarakat.
- Manusia justru terus berkurang. Populasi penduduk Tashirojima mengalami penurunan dan semakin menua. Ketika jumlah manusia menyusut sementara kucing tetap berkembang biak, perbandingan keduanya otomatis menjadi semakin ekstrem.
- Anjing tidak diperbolehkan masuk. Tradisi di pulau ini sangat berpihak kepada kucing. Larangan membawa anjing turut membuat kucing memiliki lebih sedikit tekanan dari predator domestik. Ditambah lingkungan pulau yang relatif tenang, kondisi tersebut membantu populasi kucing bertahan.
Hal menarik lainnya adalah keberadaan Neko-jinja, atau Kuil Kucing, di tengah pulau. Ceritanya cukup unik: seorang nelayan secara tidak sengaja menyebabkan seekor kucing mati ketika sedang bekerja dengan batu. Karena merasa bersalah, para nelayan kemudian menguburkan kucing tersebut dan mendirikan tempat penghormatan untuknya. Sejak saat itu, kucing semakin dianggap sebagai penjaga keberuntungan pulau. Jadi, hubungan manusia dan kucing di Tashirojima bukan sekadar perkara “banyak kucing karena sering diberi makan”, tetapi terbentuk dari sejarah panjang antara pengendalian hama, aktivitas perikanan, budaya, dan perubahan demografi. Bahkan setelah industri lama berubah, tradisi merawat kucing tetap bertahan.
Jadi, kalau suatu hari kamu merasa hidup dikuasai kucing, mungkin Tashirojima adalah level berikutnya. Di sana, manusia bukan benar-benar punah, tetapi memang sudah menjadi minoritas di sebuah pulau yang kehidupan sehari-harinya sangat lekat dengan para penghuni berbulu.